WhatsApp-Button
Penyakit Infeksius Pada Ternak

Penyakit Infeksius Pada Ternak

  2020-09-18 16:23:15     Ulti Desi Arni     Dibaca 112 kali

Penyakit infeksi adalah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh organisme seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit. Berikut adalah penyakit infeksi pada ternak :

BRUCELLOSIS (Keluron Menular)

Brucellosis adalah penyakit ternak menular yang secara primer akan menyerang sapi, kambing, babi dan secara sekunder berbagai jenis ternak lainnya bahkan manusia. Pada sapi, penyakit ini dikenal dengan sebagai penyakit Kluron atau penyakit Bang. Sedangkan pada manusia disebut dengan Demam Malta dan menyebabkan demam yang bersifat undulans. 

Gejala Klinis

  1. Pada kambing biasanya akan mengalami keguguran dalam 4 - 6 minggu terakhir dari kebuntingan dan Kambing jantan akan memperlihatkan kebengkakan pada persendian atau pada testes.
  2. Pada sapi betina akan mengalami gejala keguguran, biasanya terjadi pada kebuntingan 5 - 8 bulan. Pada ternak jantan akan terjadi kebengkakan pada testes dan juga persendian lutut.
  3. Perubahan pasca mati yang terlihat adalah penebalan pada plasenta dengan bercak-bercak pada permukaan lapisan chorion. cairan janin terlihat keruh berwarna kuning cokelat dan kadang-kadang bercampur nanah

Pengobatan : Belum ada pengobatan yang efektif terhadap brucellosis.

ANTHRAK (Radang Limpa)

Anthrax adalah penyakit menular yang menyerang berbagai jenis ternak (pemamah biak, kuda, babi dan sebagainya), yang disertai dengan demam tinggi dan disebabkan oleh virus Bacillus anthracis. berbagai jenis ternak liar (rusa, kelinci, babi hutan dan sebagainya) dapat pula terserang.

Anthrax merupakan salah satu zoonosis yang penting dan sering menyebabkan kematian pada manusia. Di Indonesia anthrax menyebabkan banyak kematian pada ternak. Kerugian dapat berupa kehilangan tenaga kerja di sawah dan tenaga tarik, serta kehilangan daging dan kulit karena ternak tidak boleh dipotong.

Penyebab penyakit anthrax adalah bakteri Bacillus anthracis. Faktor-faktor seperti hawa dingin, kekurangan makanan dan keletihan dapat mempermudah timbulnya penyakit pada ternak-ternak yang mengandung spora yang bersifat laten.

Baca Juga : Jual Software Aplikasi Radiologi Rumah Sakit

Gejala Klinis

Perakut

  1. Penyakit yang sangat mendadak dan segera terjadi kematian karena perdarahan di otak,
  2. Sesak napas,
  3. Gemetar kemudian ternak rebah,
  4. Kejang-kejang. hanya dalam waktu 2 - 6 jam dapat mengalami kematian
  5. Kematian dapat mencapai 100%.

Akut

  • Suhu badan meningkat (demam),
  • Gelisah,
  • Depresi
  • Susah pernafasan
  • Jantung terlihat berpacu dengan cepat dan
  • Lemah,
  • Kejang-Kejang dan
  • Segera mengalami kematian.
  • Selama penyakit berlangsung, demamnya mencapai 41,50C.
  • Produksi susu berkurang
  • Susu yang dihasilkan berwarna sangat kuning atau kemerahan.
  • Terjadi pembengkakan pada tenggorok dan lidah
  • Kematian bisa mencapai 90% meski telah dilakukan pengobatan.

Kronis

Sedangkan anthrax bentuk kronis umumnya terdapat pada babi dan terdapat pada ternak lainnya. Dengan gejala yang ditandai dengan adanya lepuh lokal terbatas pada lidah dan tenggorokan.

Pencegahan

  1. Pengaturan yang ketat terhadap pemasukan ternak ke daerah tersebut
  2. Pada daerah enzootic, dengan vaksinasi yang dilakukan setiap tahun. Dengan dosis untuk sapi dan kerbau dosis 1 cc, pada kambing, domba, babi dan kuda dosis sebesar 0,5 cc. secara injeksi subkutan.. Membuat preparat apus darah yang diambil dari telinga pada ternak yang mati secara tiba-tiba
  3. Jika ternak mati karena anthrax, maka tidak boleh dibuka bangkainya, tetapi diambil salah satu daun telinga dan masukkan ke dalam kantong plastik serta didinginkan jika mungkin, selanjutnya di bawa ke laboratorium untuk didiagnosis.
  4. Bangkai langsung dibakar atau dikubur sedalam 2 meter dan ditutup kapur
  5. Kulit dan bulu penderita dimusnahkan.
  6. Yang dilakukan oleh manusia adalah hindari kontak langsung (bersentuhan) dan makan daging atau jerohan serta memakai/ menggunakan bahan-bahan yang berasal dari ternak yang terkena anthrax
  7. Mencuci sayur dan buah-buahan secara bersih serta memasak bahan makanan yang berasal dari ternak sampai matang sempurna.

Pengobatan

  1. Menggunakan kombinasi antara antiserum dan antibiotika. Antibiotika yang dipakai antara lain Procain Penisilin G, Streptomisin atau kombinasi antara Penisilin dan Streptomisin, injeksi secara intramuskuler
  2. Pemusnahan spora B. anthracis dapat dicapai dengan uap basah bersuhu 900C selama 45 menit, air mendidih atau uap basah bersuhu 1000C selama 10 menit, dan panas kering pada suhu 1200C selama satu jam.

MASTITIS (Radang Ambing)

Mastitis sering terjadi pada sapi perah dan disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, dimana kerugian kasus mastitis antara lain : kehilangan produksi susu, kualitas dan kuantitas susu berkurang, banyak sapi yang diculling.

Faktor Penyebab Mastitis

  1. Resistensi atau kepekaan sehingga terjadinya penurunan gen- gen untuk menentukan ukuran dan struktur putting
  2. Adanya berbagai jenis bakteri telah diketahui sebagai agen penyebab penyakit mastitis, diantaranya jenis Streptococcus agalactiae, Str. Disgalactiae, Str.zooepedermicus, Staphylococcus aureus, Enterobacter aerogenees dan Pseudomonas aeroginosa.
  3. Faktor ternak dan lingkungann.
  4. Faktor umur dan tingkat produksi susu

Gejala Klinis

Secara klinis radang ambing dapat berlangsung secara :

Akut

  1. Kebengkakan ambing.
  2. Panas saat diraba, rasa sakit.
  3. Warna kemerahan dan terganggunya fungsi Fisiologinya.
  4. Air susu berubah sifat, menjadi pecah, bercampur endapan atau jonjot fibrin

Subakut

  1. Radang bersifat subklinis apabila gejalagejala klinis radang tidak ditemukan saat pemeriksaan ambing.
  2. Derajatnya lebih ringan,
  3. Ternak masih mau makan
  4. Suhu tubuh masih dalam batas normal.

Chronic

Proses ini berlangsung infeksi dalam suatu ambing berlangsung lama, dari suatu periode laktasi ke periode berikutnya. biasanya berakhir dengan atropi kelenjar mammae.

Pencegahan

  1. Penggunaan lap yang berbeda disarankan untuk setiap ekor sapi, dan pastikan lap tersebut telah dicuci dan didesinfektan sebelum digunakan.
  2. Pemberian nutrisi yang berkualitas.
  3. Dengan pemberian suplementasi vitamin E, A dan β-karoten serta imbangan antara Co (Cobalt) dan Zn (Seng) perlu diupayakan untuk menekan kejadian mastitis.

SEPTICEMIA EPIZOOTICA (Ngorok)

Penyakit SE adalah penyakit menular terutama pada kerbau, sapi, babi dan kadang-kadang pada domba, kambing dan kuda yang disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida tipe tertentu. Penyakit SE menyebabkan kematian, napsu makan berkurang, penurunan berat badan serta kehilangan tenaga kerja pembantu pertanian dan pengangkutan.

Di Indonesia, karena program vaksinasi SE dilakukan secara rutin, maka kejadian penyakit SE di Indonesia saat ini hanya bersifat sporadik. Namun wabah SE dalam jumlah cukup besar masih sering ditemukan, misalnya di daerah-daerah Nusa Tenggara, seperti Sumba, Timor, Sumbawa dan daerah-daerah lain. wabah SE biasa terjadi pada permulaan musim hujan. penyebabnya karena tidak tervaksinnya ternak-ternak di daerah itu.

Penyebab

Penyebab penyakit SE adalah bakteri Pasteurella multocida yang berbentuk cocobacillus yang mempunyai ukuran yang sangat halus dan bersifat bipoler dan secara serologik dikenal beberapa tipe dan penyebab SE di Indonesia, antara lain adalah Pasteurella multocida tipe 6B.

Baca Juga : Jasa Menajemen Medsos Perusahaan

Cara Penularan

  1. Faktor-faktor predisposisi , seperti : kelelahan, kedinginan, pengangkutan, anemia dan sebagainya mempermudah timbulnya penyakit.
  2. Trjadi serangan umumnya menyerang sapi umur 6 – 24 bulan dan sering pada musim hujan yang dingin.
  3. Karena belum divaksinasi SE.
  4. Kondisi stress dalam pengangkutan,
  5. Shipping fever.

Gejala Klinis

  1. Masa tunas SE hanya 1 – 2 hari.
  2. Lesu, suhu tubuh naik dengan cepat sampai 410C atau lebih.
  3. Gemetar, mata sayu dan berair.
  4. Selaput lendir mata hiperemik.

Pencegahan

  1. Daerah-daerah tertular, ternak-ternak sehat divaksin dengan vaksin oil adjuvant, sedikitnya setahun sekali dengan dosis 3 ml secara intra muskuler.
  2. Vaksinasi dilakukan pada saat tidak ada kejadian penyakit.
  3. Dua minggu kemudian bila timbul penyakit dilakukan vaksinasi ulang

Pengobatan

  1. Pengobatan seroterapi dengan serum kebal homolog, dengan dosis 100 – 150 ml untuk ternak yang besar dan 50 – 100 untuk ternak yang kecil.
  2. Antiserum homolog diberikan secara IV atau SC. Sedangkan antiserum heterolog diberikan secara SC.
  3. Penyuntikan dengan antiserum ini memberikan kekebalan selama 2 sampai 3 minggu dan hanya baik bila dilakukan pada stadium awal penyakit.
  4. Pengobatan seroterapi sebaiknya dikombinasikan dengan pemberian antibiotika atau dengan kemoterapetika
  5. Sulphadimidine (suphamezathine) sebanyak 1 gram tiap 15 lb/bw.

PINK EYE (Penyakit Mata)

Pink Eye adalah penyakit mata akut yang menular pada sapi, domba maupun kambing, biasanya penyakit tersebut ditandai dengan memerahnya conjunctiva dan kekeruhan mata. Penyakit ini tidak sampai menimbulkan kematian, tetapi dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi para peternak, karena akan menyebabkan kebutaan, penurunan berat badan dan juga biaya pengobatan yang sangat mahal.

Penyebab (Etiologi)

Disebabkan oleh bakteri, virus, rikketsia maupun chlamydia, namun kasus yang paling sering ditemukan adalah disebabkan oleh bakteri Maraxella bovis.

Penularan

  1. Kontak antara ternak peka dengan ternak penderita
  2. Serangga yang bisa memindahkan mikroorganisme
  3. Iritasi debu
  4. Sumber-sumber lain yang dapat menyebabkan goresan atau luka mata.

Gejala Klinis

  1. Mata berair, kemerahan pada bagian mata yang putih dan kelopaknya
  2. Bengkak pada kelopak mata
  3. Menjulingkan mata untuk menghindari sinar matahari.
  4. Selaput bening mata/kornea menjadi keruh
  5. Pembuluh darah tampak menyilanginya.
  6. Terjadi borok atau lubang pada selaput bening mata. Borok dapat pecah dan mengakibatkan kebutaan.
  7. Sembuh dalam waktu 1 – 4 minggu, tergantung kepada penyebabnya dan keganasan penyakitnya.

Pencegahan

  1. Memisahkan ternak yang sakit dari ternakternak sehat
  2. Melakukan sanitasi pada lingkungan ternak tersebut

Pengobatan

  1. Pemberian suntikan antibiotik
  2. Penggunaan salep mata
  3. Menempatkan ternak pada tempat yang teduh
  4. Menempelkan kain di mata dapat mengurangi rasa sakit mata akibat dari silaunya matahari.

HELMINTHIASIS (CACINGAN)

Penyakit ini sering menyerang sapi muda (pedet) dan biasanya terjadi pada musim hujan atau dalam kondisi lingkungan yang basah atau lembab ini umumnya disebabkan oleh cara pemeliharaan yang kurang diperhatikan sehingga infeksi yang parah dapat menyebabkan tingkat kematian yang cukup tinggi. 

Gejala Klinis

  1. Diare profus (terus-menerus)
  2. Faeces lembek sampai encer, berlendir dan disertai keluarnya segmen-segmen cacing dari lubang anus
  3. Anoreksia (nafsu makan berkurang)
  4. Penurunan berat badan
  5. Bulu kasar, kusam, kaku dan berdiri.

Pencegahan

  1. Pemberian ransum/makanan yang berkualitas dan cukup jumlahnya
  2. Menghindari kepadatan dalam kandang
  3. Memisahkan antara ternak muda dan dewasa
  4. Memperhatikan konstruksi dan sanitasi (kebersihan lingkungan)
  5. Menghindari tempat -tempat yang becek
  6. Menghindari pengembalaan yang terlalu pagi
  7. Melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan secara teratur

Pengobatan

  1. Pengobatan yang bisa diberikan berupa kelompok benzilmidazole, antara lain albendazole dengan dosis 5 – 10 mg/kg berat badan, mebendazole dengan dosis 13,5 mg/kg berat badan dan thiabendazole dengan dosis 44 – 46 mg/kg berat badan.
  2. Albendazole dilarang dipakai pada 1/3 kebuntingan awal.

 

Penulis : Purnama


Sukai/Like Fan Page Facebook Garuda Cyber Indonesia
Subscribe Channel Youtube Garuda Cyber Indonesia
Follow Instagram Garuda Cyber Indonesia
Chat Wa

Signup for Newsletter

Langganan Newsletter dari Garuda Cyber untuk mendapatkan informasi terupdate dari Garuda Cyber Indonesia